Pencekalan Gramedia untuk buku saya : Berakhir !

Alhamdulillah, akhirnya aksi pencekalan oleh toko buku Gramedia terhadap buku saya, “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah pelurusan sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus” berakhir sudah.

Setelah beberapa waktu sebelumnya saya mendapat informasi dari seorang sahabat di Samarinda bila buku itu telah dipajang oleh pihak Gramedia berdampingan dengan buku kedua saya, “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminudin hingga Ahmad Musaddiq”.

War is over !

Bersyukur karena semua konsumen akhirnya dapat menemukan buku tersebut dengan hanya one stop shopping :-) mengingat, Gramedia kini juga hadir dibeberapa mall.

Bagi anda yang masih kesulitan mendapatkan buku  “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” silahkan untuk menghubungi saya melalui email di armansyah.skom@gmail.com

Terimakasih

Rekon dan Jnp

Gramedia merubah kebijakan ?

Pagi 13-pebruari-2008 saya mendapat sms dari seorang sahabat (Sdr. Firdaus Noor) yang mengabarkan bahwa buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” ternyata sudah dipajang oleh toko buku Gramedia Samarinda.
Suatu hal yang cukup mengejutkan buat saya karena memang saya sendiri tidak mendapat informasi apa-apa dari pihak Penerbit (Restu Agung). Benarkah Gramedia sudah merubah kebijakan atas pencekalannya atas buku pertama saya itu ?

alt

Maka melalui milis_Iqra saya coba meminta bantuan pada semua sahabat untuk ikut mengevaluasi hal tersebut ditoko-toko buku Gramedia dikotanya masing-masing. Berikut tanggapan yang sudah masuk :
—————
Pak Agus Rasyidi :
Pak Armansyah, kalo di TM Bookstore Depok buku tersebut belum ada (terakhir saya kunjungi maksudnya). Padahal di sana, buku-buku baik Islam maupun umum ada disana, bahkan dgn jargon “toko diskon”, situsnya juga ada (coba aja google).
Kalau pihak Gramedia mengamati milis kita termasuk melihat di google, maka ada ketakutan sendiri dari segi omzet penjualan buku-buku yang mereka jual, kalau penyebaran informasi adanya diskriminasi Gramedia terhadap buku-buku Islam, khususnya terhadap konsumen dari kalangan muslim. Jadi apa yang terjadi di Samarinda, mungkin mereka (Gramedia) di sana punya pandangan seperti yang saya ungkapkan diatas.
Benar khan ?
wassalam / agus rasyidi
——————-
Aris Hardinanto (Fakta Malang)
Buku Rekonstruksi belum masuk Gramedia Malang…tapi Jejak nabi Palsu sudah masuk 2 toko buku besar yaitu gramedia (2 cabang gramedia) dan Toko Buku Toga Mas……
———
Dani Permana :
Minggu kemaren saya Ke Plaza Bintaro, buku pertama belum ada, Namun buku kedua ter-display di Bagian “New Release”.
Sedangkan kemaren saya ke Gramedia Pondok Indah Mall, kedua-duanya belum di ketemukan.
—————-
Saya sendiri menanggapi pak Agus Rasidi :
Bisa jadi Pak Agus Rasidi.Saya memang sudah mencoba mengoptimalkan penggunaan Internet, Google khususnya dalam penyebaran informasi buku tersebut berikut “pencekalan” yang dilakukan oleh pihak Gramedia.

Saya juga sudah melakukan banyak pendaftaran diberbagai mesin pencari dunia seperti altavista, msn, Yahoo dan entah saya sendiri lupa karena prosesnya waktu itu borongan saya lakukan. Yang jelas saat ini jika keyword-keyword tertentu yang berkaitan dengan topik buku itu diklik pada Google atau yang lainnya, InsyaAllah akan ikut ditampilkan dalam sekejap.

Toko Buku Gunung Agung saya lihat sudah masuk kedatabase mereka di http://www.tokogunungagung.co.id/index.php?go=book_search&event=1&plu=445024&start=0

Awalnya cuma ada buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih”, saya search untuk “Jejak Nabi Palsu” malah tidak ada sampai akhirnya saya coba hubungi mereka dan menanyakannya. Alhamdulillah, ternyata belum masuk saja didatabase online terbaru mereka. Sekarang dua-duanya ada.

Untuk Gramedia sendiri saya sudah gunakan fasilitas search disitus mereka http://www.gramedia.com/ tapi belum ketemu, entah apakah memang kasusnya sama seperti Gunung Agung atau memang bagaimananya … saya kurang tahu.

Buat saya apapun alasan Gramedia dengan buku saya yang pertama itu, tetap saja melakukan pencekalan merupakan tindakan yang tidak demokratis dan menghalang-halangi kebebasan pers serta berpendapat sebagaimana kaidah-kaidah yang sekarang gencar dipublikasikan banyak pihak (termasuk media sendiri).

Tentang problem mereka terhadap sikap konsumen Gramedia dari kalangan Islam secara global, itu adalah resiko yang harus mereka tanggung akibat sikap mereka sendiri. Tidak semua orang duduk diam dengan semua bentuk kesemena-menaan yang dilakukan oleh sesuatu yang sudah memiliki nama besar seperti Gramedia.

Jika ini perang, maka perang apa yang dikobarkan oleh mereka ? jika ini masalah sensitivitas keagamaan, maka jauh sebelum buku Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih terbit, sudah ada lebih dulu The Choice, Da Vinci Code, Dinasti Yesus, Misquoting Yesus, Islam dihujat dan lain sebagainya yang semua buku-buku itu dipajang oleh mereka. Saya siap untuk duduk bersama membicarakan masalah ini jika itu yang mereka mau, tetapi email-email yang pernah saya kirim tidak ada yang dibalas. Bahkan “tantangan terbuka” saya untuk melakukan diskusi dengan pihak-pihak yang merasa keberatan dengan hadirnya buku itupun tidak ada yang menanggapi.

Adalah menjadi suatu kemajuan bila kemudian Gramedia akhirnya memutuskan untuk menerima buku tersebut dalam stock-list mereka. Pihak penerbit sendiri sampai sore ini masih belum dapat saya hubungi sehingga tdiak ada kejelasan yang saya peroleh.

Terimakasih pak Agus Rasidi …
Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

SK Ketuhanan Yesus dan Tanggapannya

Diambil dari buku : Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus
Karya : Armansyah
Penerbit : Restu Agung, 2008
Bab 5 : Penyimpangan Ajaran Isa al-Masih
Hal. 284 s/d 293

Buku Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih

Milis_Iqra exclusive posting Today by Armansyah :

Trinitas, misteri yang tidak bisa dijelaskan

Kemelut ajaran paganisme yang sudah bercampur baur kedalam pengajaran asli Isa al~Masih memang memunculkan berbagai perdebatan hebat disepanjang sejarah agama Kristen, tidak kurang dari ratusan ribu orang yang menolak menerima Kristen Trinitas sebagai akidahnya telah dihukum bakar atau diakuisisi oleh pihak gereja diabad-abad kelamnya. Dari sini mungkin kita perlu juga sedikit banyak mendalami apa sebenarnya yang telah membuat jurang yang cukup lebar antara pengajaran Tauhid Isa kepada bangsa Israel dengan pengajaran Trinitas oleh sejumlah pihaknya.

Telah umum dalam pemahaman orang-orang Kristen bahwa Tuhan dikonsepkan menjadi tiga oknum, yaitu Tuhan Bapa (God the Father), Tuhan anak (Jesus the Christ) dan Tuhan Roh Kudus (The Holy Spirit). Dan ketiga-tiga oknum ini didalam keyakinan mereka merupakan sehakikat dan satu dalam kesatuannya. Adanya kehadiran Jesus atau Isa al~Masih yang disebut sebagai Tuhan anak (The Son of God) didalam salah satu unsur ke-Tuhanan Kristen, tidak hanya dipandang sebagai kiasan (metafora), namun lebih cenderung dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena perkataan Tuhan anak disini digunakan dalam arti yang sebenarnya, maka perkataan “Tuhan Bapa” disini seharusnya juga digunakan pula dalam arti “Bapa” yang sesungguhnya, sebab dengan demikian pemahaman ini menjadi benar. Namun hal ini akan menjadikan suatu hal yang mustahil untuk dapat diterima oleh akal sehat !

Karena diri “anak” yang sebenarnya dari sesuatu, adalah mustahil akan memiliki suatu zat dengan diri sang “Bapa” yang sesungguhnya dari sesuatu itu juga. Sebab pada ketika zat yang satu itu disebut anak, tidak dapat ketika itu juga zat yang satu ini disebut sebagai Bapak. Begitupula sebaliknya, yaitu pada ketika zat yang satu itu disebut sebagai Bapa, tidak dapat ketika itu kita sebut zat yang sama ini sebagai anak dari Bapa itu. Ketika zat yang satu ini kita sebut sebagai Bapa, maka dimanakah zat anak ?


Tentunya kita semua sepakat bahwa kata apapun yang kita pakai dalam membicarakan Tuhan itu semata sebagai pengganti kata Dia (yaitu kata ganti yang tentu saja memang ada kata yang digantikannya), dan kata Zat dalam konteks pembicaraan kita disini bukanlah kata zat yang dapat dibagi menjadi zat zair, padat dan gas namun lebih kepada esensi wujud-Nya. Oleh karena dunia Kristiani memiliki konsep pluralitas Tuhan dalam satu zat, maka disini telah terjadi suatu dilema yang sukar dan untuk menjawab hal ini, mereka selalu melarikan diri pada jawaban “Misteri Tuhan yang sulit diungkapkan.” Suatu pernyataan yang mencoba menutupi ketidak berdayaan penganut Kristen didalam memberikan pemahaman mengenai doktrin keTuhanan mereka yang bertentangan dengan akal sehat.

Disatu sisi mereka memberikan kesaksian akan ke-Esaan dari Allah, namun pada sisi lain mereka juga dipaksa untuk menerima kehadiran unsur lain sebagai Tuhan selain Allah yang satu itu, logikanya adalah, jika disebut zat Tuhan Bapa lain dari zat Tuhan anak, maka akan nyata pula bahwa Tuhan itu tidak Esa lagi tetapi sudah menjadi dua (dualisme keTuhanan dan bukan Monotheisme atau Tauhid). Begitu pula dengan masuknya unsur ketuhanan yang ketiga, yaitu Roh Kudus, sehingga semakin menambah oknum ketuhanan yang satu menjadi tiga oknum yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga mau tidak mau pengakuan tentang ke-Esaan Tuhan (prinsip Monotheisme) akan menjadi sirna. Khusus mengenai diri Tuhan Roh Kudus sendiri, didalam al-Kitab kadangkala digambarkan sebagai api, sebagai burung dan lain sebagainya. Dan Tuhan Roh Kudus ini menurut kitab Perjanjian Lama sudah seringkali hadir ditengah-tengah manusia, baik sebelum kelahiran Isa al~Masih, masa keberadaannya ditengah para murid-murid hingga masa-masa setelah ketiadaan Isa paska penyaliban. Dan menghadapi hal ini, kembali kita sebutkan bahwa unsur Tuhan sudah terpecah kedalam tiga zat yang berbeda. Sebab jika tetap dikatakan masih dalam satu zat (satu kesatuan), maka ketika itu juga terjadilah zat Tuhan Bapa adalah zat Tuhan anak kemudian zat Tuhan anak dan zat Tuhan Bapa itu adalah juga zat dari Tuhan Roh Kudus. Pertanyaannya sekarang, sewaktu zat yang satu disebut Bapa, dimanakah anak ?


Dan sewaktu zat yang yang satu disebut sebagai Tuhan anak, maka dimanakah Tuhan Bapa serta Tuhan Roh Kudus ? Oleh sebab itu haruslah disana terdapat tiga wujud Tuhan dalam tiga zat yang berbeda. Sebab yang memperbedakan oknum yang pertama dengan oknum yang kedua adalah ‘keanakan’ dan ‘keBapaan’. Sedang anak bukan Bapa dan Bapa bukan anak !
Jadi nyata kembali bahwa Tuhan sudah tidak Esa lagi. Oleh karena itulah setiap orang yang mau mempergunakan akal pikirannya dengan baik dan benar akan menganggap bahwa ajaran Trinitas, bukanlah bersifat Monotheisme atau meng-Esakan Tuhan melainkan lebih condong kepada paham Polytheisme (sistem kepercayaan banyak Tuhan). Dengan begitu, maka nyata sudah bahwa ajaran itu bertentangan dengan ajaran semua Nabi-nabi yang terdahulu yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah Esa dalam arti yang sebenarnya.

Kita dapati dari kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru (khususnya 4 Injil) sampai kepada kitab suci umat Islam yaitu al-Qur’an, tidak didapati konsep pluralitas ketuhanan sebagaimana yang ada pada dunia Kristen itu sendiri. Pada masanya, Adam tidak pernah menyebut bahwa Tuhan itu ada tiga, demikian pula dengan Abraham, Daud, Musa, dan nabi-nabi sebelum mereka sampai pada Isa al~Masih sendiri juga tidak pernah mengajarkan asas ke-Tritunggalan Tuhan, apalagi dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh lagi bila kita analisa konsep Trinitas ini menyebutkan bahwa oknum Tuhan yang pertama terbeda dengan Ke-Bapaan, karena itu ia disebut sebagai Tuhan Bapa (Dia dianggap sebagai Tuhan yang lebih tua), sementara oknum Tuhan kedua terbeda dengan Keanakan yang lahir menjadi manusia bernama Isa al~Masih dalam pengertian singkatnya bahwa Tuhan anak baru ada setelah adanya Tuhan Bapa, karena itu ia disebut sebagai sang anak. Hal yang paling menarik lagi adalah tentang oknum Tuhan ketiga yaitu Roh Kudus yang justru terbeda sifatnya dengan keluarnya bagian dirinya dari Tuhan Bapa dan Tuhan anak, sehingga Bapa bukan anak dan anak bukan pula Bapak atau Roh Kudus.

Apabila sesuatu menjadi titik perbedaan sekaligus titik keistimewaan pada satu oknum, maka perbedaan dan keistimewaan itu harus juga ada pada zat oknum tersebut. Misalnya, satu oknum memiliki perbedaan dan keistimewaan menjadi anak, maka zatnya harus turut menjadi anak. Artinya zat itu adalah zat anak, sebab oknum tersebut tidak dapat terpisah daripada zatnya sendiri. Apabila perbedaan dan keistimewaan itu ada pada zatnya, maka ia harus adapula pada zat Tuhan, karena zat keduanya hanya satu. Oleh karena sesuatu tadi menjadi perbedaan dan keistimewaan pada satu oknum maka ia tidak mungkin ada pada oknum yang lain. Menurut misal tadi, keistimewaan menjadi anak tidak mungkin ada pada oknum Bapa.
Apabila ia tidak ada pada oknum Bapa, maka ia tidak ada pada zatnya.
Apabila ia tidak ada pada zatnya, maka ia tidak ada pada zat Allah.
Karena zat Bapa dengan zat Tuhan adalah satu (unity). Dengan demikian terjadilah pada saat yang satu, ada sifat keistimewaan tersebut pada zat Tuhan dan tidak ada sifat keistimewaan itu pada zat Tuhan. Misalnya, Tuhan anak lahir menjadi manusia. Apabila Tuhan anak menjadi manusia, maka zat Tuhan Bapa harus menjadi manusia karena zat mereka satu (sesuai dengan prinsip Monotheisme). Namun kenyataannya menurut dunia kekristenan bahwa Tuhan Bapa tidak menjadi manusia. Dengan demikian berarti zat Tuhan Allah tidak menjadi manusia.

Maka pada saat zat Tuhan Allah akan disebut menjadi manusia dan zat Tuhan Allah tidak menjadi manusia, maka ini menjadi dua yang bertentangan dan suatu konsep yang mustahil. Ajaran Trinitas yang mengakui adanya Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus hanya dapat dipelajari dan dapat diterima secara baik hanya jika dunia Kristen mendefenisikannya sebagai 3 sosok Tuhan yang berbeda dan terlepas satu sama lainnya, dalam pengertian diakui bahwa Tuhan bukan Esa, melainkan tiga (Trialisme). Siapapun tidak akan menolak bahwa Tuhan bersifat abadi, Alpha dan Omega, tidak berawal dan tidak berakhir, namun keberadaan Tuhan yang menjadi anak dan lahir dalam wujud manusia telah memupus keabadian sifat Tuhan didalam dunia Kristen, karena nyata ada Bapa dan ada anak alias telah ada Tuhan pertama yang lebih dulu ada yang disebut sebagai Tuhan tertinggi dan ada pula Tuhan yang baru ada setelah Tuhan yang pertama tadi ada. Akal manusia dapat membenarkan, jika Bapa dalam pengertian yang sebenarnya harus lebih dahulu ada daripada anaknya. Akal manusia akan membantah bahwa anak lebih dahulu daripada Bapa atau sang anak bersama-sama ada dengan Bapa, sebab bila demikian adanya tentu tidak akan muncul istilah Bapa maupun anak.

Apabila Tuhan Bapa telah terpisah dengan Tuhan anak dari keabadiannya, maka Tuhan anak itu tidak dapat disebut ‘diperanakkan’ oleh Tuhan Bapa. sebab Tuhan Bapa dan Tuhan anak ketika itu sama-sama abadi, Alpha dan Omega, sama-sama tidak berpermulaan dan tidak ada yang lebih dahulu dan yang lebih kemudian hadirnya.

Apabila ia disebut diperanakkan, maka yang demikian menunjukkan bahwa ia adanya terkemudian daripada Bapa. Karena sekali lagi, anak yang sebenarnya harus ada terkemudian daripada Bapa yang sebenarnya. Apabila antara Tuhan Bapa serta Tuhan anak telah terbeda dari kekekalan, maka Tuhan Roh Kudus pun telah terbeda pula dari kekekalannya masing-masing, mereka bukan satu kesatuan tetapi tiga unsur yang berbeda. Kenyataan ini justru didukung penuh oleh kitab Perjanjian Baru sendiri, bukti pertama bisa kita baca dalam Injil karangan Matius pasal 3 ayat 16 sampai 17 :

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan.” – Injil Matius pasal 3 ayat 16 dan 17

Pada ayat diatas secara langsung kita melihat keberadaan tiga oknum dari zat Tuhan yang berbeda secara bersamaan, yaitu satu dalam wujud manusia bernama Isa dengan status Tuhan anak, satu berwujud seperti burung merpati (yaitu Tuhan Roh Kudus) dan satunya lagi Tuhan Bapa sendiri yang berseru dari sorga dilangit yang sangat tinggi. Dengan berdasar bukti dari pemaparan Injil Matius diatas, bagaimana bisa sampai dunia Kristen mempertahankan argumentasi paham Monotheisme didalam sistem ketuhanan mereka ? Bukti lainnya yang menunjukkan perbedaan antara masing-masing zat Tuhan didalam dunia Kristen yang semakin membuktikan keterpisahan antara Tuhan yang satu dengan Tuhan yang lainnya dalam kemanunggalan mereka.

Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. – Injil Yohanes pasal 20 ayat 21 dan 22

Ayat Injil Yohanes diatas sebagaimana juga ayat dari Injil Matius pasal 3 ayat 16 dan 17 sebelumnya, memaparkan mengenai keterbedaan zat Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus sehingga semakin jelas bahwa antara Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus tidak ada ikatan persatuan dan tidak dapat disebut Tuhan yang Esa, masing-masing Tuhan memiliki pribadinya sendiri, inilah sistem kepercayaan banyak Tuhan (Pluralisme ketuhanan) sebagaimana juga yang diyakini oleh orang-orang Yunani maupun Romawi tentang keragaman dewa-dewa mereka. Konsep ini sama dengan konsep tiga makhluk bernama manusia, ada si Arman sebagai Bapa, ada si Daffa sebagai anak dan adapula si Haura, ketiganya berbeda pribadi namun tetap memiliki kesatuan, yaitu satu dalam wujud, sama-sama manusia, tetapi apakah ketiganya sama ? Tentu saja tidak, mereka tetaplah tiga orang manusia berbeda. Tuhan Bapa, Tuhan anak maupun Tuhan Roh Kudus adalah sama-sama Tuhan namun mereka tetap tiga individu Tuhan yang berbeda, inilah sebenarnya konsep yang terkandung dalam paham Trinitas atau Tritunggal pada dunia Kristen. Untuk menjadi pemikiran lanjutan bagi kita semua, bahwa dunia Kristen Trinitas meyakini Isa al~Masih merupakan anak Tuhan sekaligus Tuhan itu sendiri yang lahir menjadi manusia untuk menerima penderitaan diatas kayu salib demi menebus kesalahan Adam yang telah membuat jarak yang jauh antara Tuhan dengan manusia.

Sekarang, bila memang demikian adanya, bisakah kita menyatakan bahwa pada waktu penyaliban terjadi atas diri Isa maka pada saat yang sama Tuhan Bapa (Allah) telah ikut tersalibkan ? Hal ini perlu diangkat sebagai acuan pemikiran yang benar, bahwa ketika Tuhan telah memutuskan diri-Nya untuk terlahir dalam bentuk manusia oleh perawan Maria maka secara otomatis antara Isa dengan Tuhan Bapa tidak berbeda, yang disebut Isa al~Masih hanyalah raga manusiawinya saja tetapi isi dari ruhnya adalah Tuhan sehingga hal ini menjadikan diri Isa pantas disebut Tuhan anak.

Dalam keadaan apapun selama tubuh jasmani Isa masih hidup dan melakukan aktivitas layaknya manusia biasa, pada waktu itu Ruh Tuhan pun tetap ada dalam badan jasmani tersebut dan tidak bisa dipisahkan, sebab jika Ruh Tuhan telah keluar dari badan kasarnya maka saat itu juga Isa al~Masih mengalami kematian, karena tubuh jasmani telah ditinggalkan oleh ruhnya. Jadi logikanya, sewaktu tubuh jasmaniah Isa disalibkan, maka zat Tuhan juga telah ikut tersalib, artinya secara lebih gamblang, Tuhan Bapa telah ikut disalib pada waktu bersamaan (sebab mereka satu kesatuan). Pada waktu tubuh jasmani Isa al~Masih bercakap-cakap dengan para murid serta para sahabat lainnya maka pada waktu yang bersamaan sebenarnya Tuhan-lah yang melakukannya dibalik wadag tersebut.

Dan sekarang bila Isa mengalami kejadian-kejadian tertentu seperti mengutuki pohon Ara karena rasa laparnya namun ia tidak menjumpai apa-apa disana selain daun (Lihat Injil Matius pasal 21 ayat 18 dan 19) maka hal ini menyatakan ketidak tahuan dari diri Isa mengenai segala sesuatu dan berimplikasi bahwa Tuhan yang mengisi jiwa dari wadag manusia Isa al~Masih itupun bukanlah Tuhan yang sebenarnya, sebab ia tidak bersifat maha mengetahui sedangkan pencipta alam semesta ini haruslah Tuhan yang mengenal ciptaan-Nya sekalipun itu dalam wujud makhluk paling kecil dan hitam yang tidak tampak secara kasat mata berjalan pada malam yang paling kelam sekalipun.

Dan pada waktu Isa merasa sangat ketakutan sampai peluhnya membasahi sekujur tubuhnya bagaikan titik-titik darah yang berjatuhan ketanah seperti ditulis oleh Injil Lukas pasal 22 ayat 44, maka pada saat yang sama kita menyaksikan Tuhan yang penuh kecacatan, betapa tidak, Tuhan justru frustasi dan kecewa sampai Dia mau mati (Lihat Injil Matius pasal 26 ayat 38) akibat ketakutan-Nya kepada serangan para makhluk ciptaan-Nya sendiri yang seharusnya justru menjadi lemah dan bukan ancaman menakutkan dimata Tuhan. Dan didetik-detik tersebut kita dapati pada Injil Matius pasal 26 ayat 36 sampai 39 Isa telah memanjatkan doa yang ditujukan kepada Tuhan. Sungguh suatu kejanggalan yang sangat nyata sekali, betapa Tuhan telah menjadi makhluk dalam bentuk manusia dan Tuhan itu masih memerlukan bantuan dari pihak lain (dalam hal ini Tuhan itu butuh bantuan Tuhan juga), disinilah sebenarnya kita melihat kenyataan bahwa Isa al~Masih itu sendiri bukan Tuhan, dia hanyalah makhluk dan sebagai makhluk maka seluruh dirinya terlepas dari unsur-unsur ketuhanan, baik jasmani maupun rohaninya. Karena itu dia pasti membutuhkan bantuan Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang Maha Tahu, Tuhan yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu dari ciptaan-Nya serta Tuhan yang Maha Gagah.

Doktrin kemanunggalan Isa al~Masih dengan Tuhan, memang sungguh layak untuk bisa dikaji ulang, kalimat keanakan Tuhan yang dilekatkan padanya jelas bukan bahasa metafora. Dalam banyak kitab dan pasal pada Perjanjian Baru, kita sebut saja misalnya Injil Matius pasal 26 ayat 64, Kisah Para Rasul pasal 7 ayat 55 dan 56, Kitab Roma pasal 8 ayat 34 dan sebagainya telah disebut bahwa Isa al~Masih sebagai Tuhan anak telah duduk disebelah kanan Tuhan Bapa, artinya mereka berdua (antara Tuhan Bapa dengan Tuhan anak) merupakan dua Tuhan yang berbeda, bukankah semakin jelas kita melihat ada dua Tuhan dan bukan satu Tuhan, dan jika paham satu Tuhan disebut sebagai Tauhid atau Monotheisme maka sistem banyak Tuhan (lebih dari satu Tuhan) disebut sebagai Pluralisme Tuhan atau Polytheisme. Inilah bukti yang bisa kita persembahkan kepada golongan yang masih menerima Isa sebagai Tuhan dan menganggapnya sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Kita bukan hendak menghujat ataupun melakukan bentuk penistaan terhadap ajaran maupun keyakinan agama lain, namun disini kita mencoba menyampaikan kebenaran melalui kalimat dan bukti-bukti yang bisa ditelaah dan dipelajari secara obyektif oleh setiap orang. Islam melarang umatnya untuk melakukan pelecehan agama manapun, kita akan tetap menghormati mereka meskipun menolak apa yang sudah disampaikan. Kiranya buku ini bisa mendatangkan hikmah dan hidayah bagi setiap pembacanya dan bukan malah memunculkan polemik baru yang akan semakin memecah belah rasa persaudaraan antar iman di Indonesia.

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125


Isa al~Masih hanyalah seorang Rasul

Secara abstrak, Tuhan memang meliputi segala sesuatunya namun kalau Dia sudah didoktrinkan menjadi terbatas (yaitu tersekat kedalam daging) sebagaimana pernyataan orang-orang Kristiani terhadap sosok Isa al~Masih, maka artinya Tuhan dengan menjadi daging itu telah tunduk dengan segala keterbatasannya, maka tentunya ini tidak bisa disamakan lagi dengan konsepsi kemaha kuasaan Allah.

……… > Lanjutannya, silahkan baca langsung buku tersebut.

Blog Buku di http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com

2008/2/13 Umat kepunyaan Alloh <hery.sam@gmail.com>:

asstafirullah, asstafirullah, astafirullah,
sungguh amat sangat syirik kalau Yesus/Isa dikatakan Tuhan tetetapi
kalau Isa sebagai Anak Allah ya ..ialah,
Anak Allah artinya Isa berasal dari Allah seperti Anak Palembang
apakah Palembang beranak tentunya anak berasal dari palembang,
Isa Anak Allah karena Dia sebagai pembuka kunci Surga, seperti anak
Kunci mempunyai fungsi sebagai pembuka dan penutup.
Isa Anak Allah karena Dia yang menjelaskan maksud dan rencana Allah
untuk umat manusia seperti “anak kalimat ” yang memngandung arti
memberi penjelasan tentang pokok kalimat supaya lebih jelas, dan banya
arti arti yang lain…,
Kalam itu sudah menjadi manusia dan tinggal bersama-sama dengan kita
dan kalam itu Allah sendiri.
On 12 Feb, 16:07, “Dani Permana” <adaniperm…@gmail.com> wrote:
> Kapan SK yang memutuskan Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan?
>
> Hal itu diputuskan pada Konsili di Efesius Juni 431 M (400 tahun setelah
> Yesus wafat) yang disponsori oleh Kaisar Romawi, Theodosius II.

>

Talpiot Tomb dan Buku Saya

James Charlesworth Speaks for More Study of the Tomb
Sumber : http://blog.bible.org/primetimejesus/content/james-charlesworth-speaks-more-study-tomb-jan-26-08

The Jerusalem Post has an interview with James Charlesworth, the chair of the Jerusalem Symposium that discussed the Jesus Tomb. He calls for more study. Since he is on sabbatical in Israel until April and will try to see of the tomb can be reopned for study. The inter view three pages long in the Jerusalem Post and I have made a link in News We’Re Watching. He says gainging the right questions are important.

There are several key elements ot the interview (1) He finds the cluster of names important as possibly pointing to Jesus’ family, but does not believe the Jesus ossuary belongs to Jesus (DLB comment: But if it is not him, then who and what is it doing there? Losing a link to Jesus undermines the Jesus family claim. So it is hard to think one can have it both ways. No Jesus ossuary, but possibly Jesus’ family is not very likely at all). (2)  He stresses that Jesus had a body in resurrection. So he holds that there is no transmigration of the soul or mere disembodied spirit. (DLB Comment: This is correct and a crucual point.) (3) He expresses impatience with those who argue that the resurrection had a quality that prevents bones from being left behind. (DLB comment: This is hard to understand for one trying to defned the teaching of the texts, which declared a completely empty tomb in line with Jewish hope of a material quality to the resurrection, something Paul, as a former Pharisee, Mark, Matthew, Luke, and John seem very clear about. Paul is especially important here because resurrection is in line with the Jewish hope he had always believed–and he was converted to it. It is here that Charlesworth appears to be inconsistent)

In fairness, one could argue that what he wants to do is really get to the bottom of all of this–and the only way to do that is to carefully reinvestigate it all. The question is whether that really is necessary, given what we already know. Most are saying no.

————-

James Charlesworth in Jerusalem Post
Sumber : http://www.jpost.com/servlet/Satellite?apage=1&cid=1201070788587&pagename=JPost%2FJPArticle%2FShowFull

Since a four-day Jerusalem symposium devoted to assessing the controversial “Talpiot Tomb” concluded last week, and the distinguished array of participants went their separate global ways, there’s been a fair amount of victory-claiming… from both sides.
[An ossuary bearing the...]

An ossuary bearing the inscription ‘Mary’. Could this be the original burial box of Mary, mother of Jesus?
Photo: Courtesy

Supporters of the theory that the First Century burial cave, nestling beneath apartment buildings on East Talpiot’s Rehov Dov Gruner, was the last resting place of the family of Jesus of Nazareth, and perhaps of Jesus himself, are asserting vindication, since the renowned scholars didn’t consensually laugh the Jesus-clan theory out of town and, indeed, agreed that further investigation was required. The symposium “considered the evidence and is opening the door for further research,” said Simcha Jacobovici, the filmmaker whose The Lost Tomb of Jesus last year brought the issue back into the headlines 27 years after the cave was uncovered. “It’s time that the world seriously considered that the Jesus family tomb may very well have been located.”

Opponents are asserting the opposite, noting that many of the scholarly presentations were highly skeptical and that the symposium reached no definitive conclusions and recognized no unarguable, scientific proof of a Jesus link. “Most negative assessments of archeologists and other scientists and scholars who attended [the symposium] have been excluded from the final press reports,” complained Duke University’s Professor of Jewish Studies Eric Meyers and another dozen scholars in a statement that listed archeological, statistical, DNA and other objections. “We wish to… make it clear that the majority of scholars in attendance – including all of the archeologists and epigraphers who presented papers relating to the tomb – either reject the identification of the Talpiot tomb as belonging to Jesus’s family or find this claim highly unlikely.”

Caught charismatically and authoritatively in the middle of the disputatious sides is symposium chair James Charlesworth, a renowned expert on Jesus who is professor of New Testament Language and Literature at Princeton Theological Seminary and director of its Dead Sea Scrolls Project. His succinct symposium summary is that it “ended inconclusively… Both sides have been pushing to say that their side won. It didn’t.”

Unlike many of the archeologists, epigraphers, statisticians et al who converged to join their Israeli colleagues last week, Charlesworth, an ordained Methodist minister, has not gone home. He has been coming to Israel since 1968 and is on sabbatical here – a visiting scholar in the History Department of the Hebrew University – until April. And Charlesworth fully intends to do as much as he can in the next three months to start getting to the bottom of the Talpiot tomb – figuratively and, he hopes, literally.

He does not, he stresses in the course of a fascinating conversation at Mishkenot Sha’ananim this week, “believe we’ll ever have definitive conclusions” about the cave and its tantalizing contents. “But we’ll have better questions,” he says.

To that end, he is now to set about obtaining permits to reenter both the Talpiot Tomb and an adjacent tomb which has never been properly excavated, and wants to put together the most expert team he can so that, if such access is permitted, it is not wasted.

Though he is unconvinced that the ossuary with the crudely scratched inscription “Jesus son of Joseph” is the burial box of the founder of Christianity, Charlesworth is open to the possibility that the tomb, which contained nine more ossuaries, five of them also inscribed, is related to the Jesus clan.

And while he takes courteous pains not to criticize the Israeli archeologists who uncovered the find in 1980 for their ostensibly underwhelmed handling of their potentially shattering discovery, Charlesworth is immensely intrigued by the possibilities.

“Every single name [on the ossuaries] in the tomb can be found in the New Testament either directly or indirectly related to Jesus’s clan,” he points out.

An extraordinary constellation of names?

“Yes, I’d use the word extraordinary,” he agrees. “If I’d found a ‘Jesus son of Joseph,’ a ‘Mary’ and a ‘Jose,’” he sparkles, “I certainly wouldn’t have tried to suppress the possibility it related to a human figure. I also wouldn’t have jumped to the conclusion that we have a match.”

But the discovery, he enthuses, “should have elicited a ‘Wow! What have we found?’

“And that’s where we are now,” he goes on. “I want to get an honest inquiry going, in which you are open to every possible conclusion.”

Charlesworth is a truth seeker, operating without fear that anything that could come out of the Talpiot Tomb could challenge core Christian or Jewish beliefs. And he wants to gather similarly open-minded colleagues from the relevant disciplines to explore further, people “without strong feelings,” he stresses, “people who don’t think they already know the answers.”

To speak with him is to scramble from Old Testament to New, from scientific rigor to deeply held personal belief, from obscure expertise to current affairs. At times, he seemed to bring history to life across the table. Answering my questions, his mind darted from the present to 2,000 years in the past. I took notes till my hand ached and then some. Excerpts:

How would you sum up the results of the Jerusalem symposium?

I deliberately chose people who violently oppose each other [to make presentations]. Experts from every field – archeologists, experts in DNA, ceramics, epigraphy, forensic autopsy, the architecture of tombs, philology, carbon-dating, patina…

I want to stress that the symposium was focused on ‘Jewish views of the after life and burial practices in Second Temple Judaism.’ And we’ve been getting a lot of very important information regarding views of the after life and archeological evidence of tombs before [the year] 70 in Jerusalem.

The scientists have not suggested that the Talpiot Tomb reflects anything to do with Jesus himself. The open question is that perhaps it is related to his clan. This is where statistics come in. We haven’t been able to solve this. Is ‘Jose,’ the name of one of Jesus’s brothers, as unique as people claim, for instance?

Six of the 10 ossuaries found in the tomb, which was uncovered amid the apartment-building frenzy in East Talpiot 28 years ago, bear inscriptions. Jacobovici’s film, made for the Discovery Channel, linked all six to Jesus: “Jesus son of Joseph,” “Mary,” (his mother) “Jose” (a brother), “Matia” (another relative), “Mariamne” (said to be Mary Magdalene) and (a child) “Judah son of Jesus.” The ossuaries are held by the Israel Antiquities Authority. The controversy sparked by the film led, in turn, to last week’s scholarly conference.]
[An ossuary bearing the...]

An ossuary bearing the inscription ‘Mary’. Could this be the original burial box of Mary, mother of Jesus?
Photo: Courtesy

The symposium ended with a motion that was enthusiastically and unanimously endorsed, empowering me to open both tombs and obtain the data necessary to help us formulate better questions and approximate a better reconstruction of burials near Jerusalem in the time of Jesus.

I’m told I need to go to the Jerusalem Municipality [to begin the process of obtaining the necessary permits]. They’re open to this, I’m told. And I need to see how we can do it with the support of the IAA.

And that’s what you’re now going to set about doing?

Yes. I’m here till April. If we get a permit, I’m going to set up a committee, including [archeologist/anthropologist] Mark Spigelman… I plan non-invasive exploration… Contamination [of sites and their contents] has been rife in every archeological excavation. Now we have the insight of hindsight. We need to recognize what questions we have and how can we obtain the best answers. How, for instance, can we obtain DNA without contaminating it? We need to get the best minds. No one should be involved who has strong feelings, who think they know the answers. And we need to ask: 1) Is the tomb related to Jews in the time of Hillel and Jesus? 2) Is the tomb related to people known in literature – in Josephus and the Mishna, in the New Testament and in rabbinic writings?

I’m convinced we’ll never have definitive conclusions, but we’ll have better questions. We’ll have a vastly improved historical reconstruction.

What is exciting for me is that we have Jews, Roman Catholics and Protestants working on this together, and their faiths are not a factor…

I’m on sabbatical at Hebrew University. I’m here. I’m open [to work seriously on this] if people are willing, and everyone seems to be willing.

Can you elaborate a little on some of the wider context in which you’re looking at the Talpiot Tomb.

We have more and more people, Jews and Christians, admitting that the “Palestinian Jesus Movement” – something that was going on in Palestine, was relating to Jesus and was a movement – was much more significant before [the year] 70 than we thought. Almost everywhere you go – at the Church of the Holy Sepulcher, at Ein Kerem, at Philip’s Fountain – you have Hadrianic structure. Why would [Roman emperor] Hadrian have wanted to build something over celebration of the Jesus movement? The provisional answer: He wanted to suppress it. That’s a fingerprint. If he wanted to suppress it, it may have been significant.

The historical span is the period from 27 [in the three years before the crucifixion] to [the destruction of the Second Temple by the Romans under Titus] 70. Why would there be such an interest in putting a stop to this movement?

It was the politics… Jesus was clearly put to death by the Romans, not the Jews. They thought he was leading an insurrection. Jesus was surrounded by crowds – at the feeding of the 5,000, at the entry into Jerusalem. That’s a dangerous sociological institution; people working together. If you’re a Roman soldier, you see danger. There’s something in the air that’s very dangerous – the polemical ambience. It was like a fire on which gasoline was being poured.

Jesus seems to know that open revolt against Rome would be disastrous – as indeed it proves in 70. He says, ‘If they do this to the green wood, what shall they do with the dry?’ He’s the green wood, being taken to his death. He’s warning: Please be careful or everything will be destroyed. In Luke, his followers talked of him predicting the destruction of Jerusalem, the greatest city ever built, with the greatest temple ever built. We’ve found stones up to 570 tons [the 'Western Stone']! The heaviest in the pyramids are 70 tons; at Stonehenge, 35 tons. A 100-ton stone can’t be moved with wood, rollers, pulleys, brakes. It’s an amazing temple. Archeology gives context to our text.

And stirs up high emotion.

I’m going to try and [handle the further investigation] in the most sensible way possible. To work with the authorities. The world is now focusing on us.

The fact is that the symposium ended inconclusively and with a consensus on finding out more. Both sides have been pushing to say that their side won. It didn’t. We’ve got wild emotions on both sides. Wonderful people are acting irrationally.

What do you make of the declaration [made at an award ceremony at the symposium] by Ruth Gat – widow of Joseph Gat, the lead excavator in 1980 – that her husband knew he had found the tomb of Jesus and feared the discovery would spark an anti-Semitic backlash?

That’s not a factor. She has the right to say it, but scientists have the right to ignore opinions as they search for the truth – any opinions.

[When Mrs. Gat was invited to the front of the symposium at its last session] I thought I was giving an honor to the excavator of the tomb. I didn’t expect the widow would give a speech. I think that when she saw the [Jacobovici] film, she was of the opinion: my husband and I knew this too. It’s natural. Wouldn’t anybody want to say [of their late husband]: He did something big? In a way she hijacked the symposium, which was about people with very different skills coming together to ask questions very responsibly.

Do you give any credence to the claim, inferred by Mrs. Gat in her remarks and explicitly put to me last week by one expert, that Gat and the Israeli archeological hierarchy covered up, or played down, the tomb discovery, for fear of some kind of Christian backlash?

It is unconscionable the way the followers of Jesus have treated the nation from which he came. So I can understand a lack of professional conduct from some of those who have been unconscionably persecuted. But I know of no specific allegations.
[An ossuary bearing the...]

An ossuary bearing the inscription ‘Mary’. Could this be the original burial box of Mary, mother of Jesus?
Photo: Courtesy

I have been to Auschwitz. It must never happen again.

Jesus has been misrepresented. He was a wonderful Jew. He had come to Jerusalem to celebrate Passover.

I have been concerned how little archeologists who are Jews know about the New Testament. They were told not to read it. Today it is different. It is being taught at the Hebrew University and Bar-Ilan University. Now it’s recognized as Jewish history. That’s recent.

If you didn’t know the New Testament, and didn’t know the names of Jesus’s family, how could you make an assessment [about the significance of the Talpiot Tomb]?

Finding that constellation of names, if you have a peaceful world in which intellectual possibility is freely followed… [Charlesworth tailed off] But this was a time [in 1980] of furious construction. You didn’t have a quiet atmosphere to explore issues. This is a volatile region. You had intifada 1 and intifada 2 and suicide bombers. It’s been like this from Abraham to the present…

You consider that constellation of names [inscribed on the ossuaries in the tomb] to be extraordinary?

Yes, I’d use the word extraordinary. If I’d found a ‘Jesus son of Joseph,’ a ‘Mary’ and a ‘Jose,’ I certainly wouldn’t have tried to suppress the possibility it related to a human figure. I also wouldn’t have jumped to the conclusion that we have a match.

It should have elicited a ‘Wow! What have we found?’
And that’s where we are now. I want to get an honest inquiry going, in which you are open to every possible conclusion.

In your concluding remarks at the symposium, you rejected the idea that Jesus’s bones were buried at the tomb with objections that seemed more subjective than rigorously scientific. [Charlesworth described the 'Yeshua son of Yehosef' ossuary inscription as 'graffiti, just scratching,' and the ossuary as 'lousy,' adding that he found it unthinkable that the followers of Jesus would have put 'the remains of "the messiah" in such a horrible ossuary.']

I don’t rule it out. It’s my explanation for why it is difficult to accept it.

If Jesus’s bones were found, would that undermine Christian doctrine?

There are some who say, ‘if his bones are not in heaven… then I can’t be a Christian.’ My response is that Christian faith is emotional, but it’s based upon reflection of some very brilliant Jews who were making extraordinary claims about a man who is human and who brought God’s presence into their midst.

I’m taking people back to the sources. What does it mean to accept that Jesus was fully human and fully divine? Too often the confession is reduced to one statement: Jesus is God. That is heresy.

And the legitimate formulation?

Jesus is fully human and fully divine. That’s the anchor of the faith. That’s what distinguishes Christianity from Greek myth…

To claim that God raised Jesus from the dead does not mean it was the transmigration of the soul or a bodiless resurrection. The confession from the beginning was that somehow, incomprehensibly, the resurrected Jesus had a body, but it wasn’t a body that would decay again.

Speaking for myself, I can’t imagine any archeological discovery that would hinder Jewish or Christian faith. If we found the bones of Jesus, I can still confess that I experience a resurrected Lord.

All of us are on one side of the grave, and we don’t know what’s on the other side of that eternal divide.

How did you get involved in the Talpiot Tomb controversy in the first place?

The Discovery Channel wanted an expert’s take on Simcha’s movie. I was brutal. I said the film should not end with a dogmatic [assertion that this was the Tomb of Jesus] but with an interrogative. I said they should leave out [the claims relating to] Mary Magdalene, Jesus and the boy. The focus should have been a question: What does it tell us about Jews at the time, and does it have any connection with a man from Nazareth… To me, the longer the film [went on], the less it seemed believable. Then, Discovery wanted me to chair a symposium.

Journalism should excite people with questions. That’s my scholar’s viewpoint.

Every single name in the tomb can be found in the New Testament either directly or indirectly related to Jesus’s clan… It’s surprising you don’t have Daniel, Eliezer and other people. I don’t have an answer to that…

Our symposium ended with no conclusions. We agreed to start the process to get more data and approximate a better reconstruction of what the tomb can tell us about that period.

I think the tomb is a window to the past. Let’s have the courage to look through it.

ARMANSYAH Said :

Dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus” (blog : http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com/) saya menulis :

Perdebatan panjang seputar lokasi pasti kuburan Nabi Isa al-Masih dan sang ibunda maupun para keluarga beliau yang lain meski cukup menarik tapi didalam Islam sendiri bukan isyu yang terlalu penting untuk dibahas. Umat Islam tidak menganggap kuburan-kuburan seperti itu sebagai sesuatu yang perlu dikeramatkan atau disucikan. Sebab Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebersihan akidahnya dari penyakit syirik atau penyekutuan terselubung terhadap Allah.

Entah apakah Rozabal dan Murre di India atau Talpiot di Yerusalem benar-benar menyimpan jasad-jasad asli tokoh-tokoh tersebut seperti yang banyak diajukan oleh sejumlah orang sekarang ini, sejauh itu bisa dibuktikan atau dianalisa yang meyakinkan dari berbagai sudut pandang keilmuan, maka kita hanya bisa mengajukan asumsi saja atasnya.

Yang jelas Islam mengakui akan eksistensi orang-orang tersebut dipentas sejarah, hidup dan berkomunitas sebagai bagian dari bangsa Israel, berdakwah dan berjuang juga untuk orang Israel. Menjadi salah satu keluarga generasi para Nabi Tuhan di Israel yang dibekali sejumlah mukjizat, memiliki keluarga dan keturunan serta pada akhirnya mereka-mereka ini wafat sebagaimana halnya para manusia lain pada lazimnya. (Lihat tulisan ini pada hal. 325 “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih”).

Ditemukan atau tidaknya makam asli Nabi ‘Isa, tidak akan merubah teologi dalam Islam sebab memang Islam tegas mengakui beliau hanya manusia biasa dan seorang Nabi serta Rasul.


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH
http://armansyahskom.wordpress.com
http://www.penulis-indonesia.com/armansyah/blog/

Komentar sahabat mengenai buku RSIA

Feb 11, 2008 2:52 AM
By : Abouedipoo Himura

Selagi membaca ulang Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih sy nemu bahwa terjemahan alqur’an d CD: web hadist ternyata masih versi depag…untuk Q.S Annisa 157…

selagi membaca ulang RSI rasanya saya ingin menjawab sendiri email sy yg sbelumnya tt hadist vs al-qur’an…
sy simpulkan bahwa hadist yg mengatakan tt nabi isa akan turun d akhir zaman adalah tidak shahih…batal atas nama hukum al-qur’an

oke…next

sy sudah baca websitenya harun yahya: http://www.yesusakankembali.com/s1_5.html

ada perbedaan referensi dgn RSI, di website ada Q.S 4:159

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti, Isa itu akan menjadi saksi atas diri mereka. (Surat an-Nisaa’: 159) di RSI tidak dibahas sepertinya (kalo gak salah hal 134: cuma ayat 157-158 yg dikutip)

however…sy sependapat tt posisi alquran yg turun setelah nabi isa wafat dan di “angkat”…sehingga term of time nya dapat dijadikan dasar kronologis kejadian seperti pada ayat Q.S 3:55

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.

sy rasa ayat ini kategori past perfect future tense…ayat yg menjelaskan akan terjadinya suatu peristiwa di masa lampau, yaitu akan menyampaikan kepada akhir ajal (ada tulisan : mutawaffika ) dan mengangkat kamu (ada tulisan : warafi’uka)….
artinya sekarang (saat ayat ini turun) isa almasih sudah wafat dan sudah diangkat

kemudian pada Q.S 4:157-158

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

(157) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(158)

nah ini ayat past tense, saat ayat ini (158) turun nabi isa telah di angkat…arti kata sudah wafat pula karena urutannya wafat dulu baru di angkat sama seperti halnya ayat Q.S 5:116-117

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”.
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

sy merasa ayat ini future perfect tense, ayat yg menerangkan masa depan, di akhirat, yaumil hisab: dimana isa ditanya tt trinitas, yang saat ayat ini turun sudah ada trinitas…sedangkan trinitas baru akan di kembangkan dan sebarkan oleh saulus setelah beberapa waktu berita isa masih hidup setelah penyaliban…berarti semasa hidupnya isa tidak tahu trinitas…selain dia akan wafat dan Allah yg akan mengawasi umat nya…

well…rasanya sy semakin yakin…soal wafatnya Isa a.s… semoga saya di jalan yg benar…

tt Q.S 4:159, yg tidak ada di RSI…rasanya lumrah-lumrah saja di hari kiamat ada Isa…bukankah saat sangkakala di tiup, mayat keluar dari kuburnya…Isa almasih keluar dari kuburnya dengan tubuh utuh selayaknya jasad nabi yg terpelihara sehingga orang yg dulu pernah melihatnya akan langsung mengenalinya…bukan berarti ada setelah turun dari langit malah ada setelah naik dari perut bumi..

namun sekarang ada pertanyaan baru selagi bacabaca Q.S ali imran tadi:

ayat ini apakah mengikat ?
Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

sekarang sy merasa punya sedikit ilmu, yang wajib disampaikan walau 1 ayat…namun seberapa wajib untuk menyampaikan pemahaman tt isa kepada saudara-saudara dan teman-teman saya, terhadap orang-orang seperti sy dulunya juga orang yg tidak ada ilmu selain ikut penjelasan ibu saya dan guru agama dan buku-buku tt hadist hari akhir… yg masih beranggapan tt isa akan turun di hari akhir…?! tentu tidak perlu mubahalah… hanya begitu teman sy menyuruh saya mengkoreksi ulang bacaan saya, buku RSI, sy gampang goyah juga…dan akhirnya mengecek websitenya harun yahya…tp InsyaAllah setelah sy baca ulang…malah jadi semakin percaya…dan berdoa kalau saya memang di jalan yg lurus…

sekian saja curahan pikiran sy yg muncul atas buku pa arman, bilasanya hal ini adalah pencerahan ke jalan yg benar…tentu Allah maha mengetahui dan akan membalas umatnya dengan setimpal di akhirat nanti…

wasslmkm

@bouedipoo~

Apa kriteria Penghujatan ? (Belajar dari Kasus Tempo )

Sebelum masuk kepada apa yang hendak saya sampaikan, maka ada baiknya kita baca dulu berita berikut sekaitan kasus majalah Tempo edisi 10 Pebruari 2008 dibawah ini :

Umat Katolik Protes Tempo
Sumber : http://www.swaramuslim.com/more.php?id=5852_0_15_0_M

Majalah Tempo kembali tersandung masalah. Kali ini sampul depan (cover) majalah mingguan berita edisi terbaru Nomor 50/XXXVI/04, 10 Februari 2008 — tentang mantan presiden Soeharto (almarhum) bersama anak-anaknya di meja makan — itu dinilai telah melecehkan simbol kudus umat kristiani, khususnya Katolik di Indonesia. Gambar sampul majalah berjudul Setelah Dia Pergi tersebut, mirip format lukisan perjamuan terakhir Yesus pada murid-muridnya. Yaitu, The Last Supper, karya Leonardo Da Vinci.

cover_tempo1.jpg

Selasa (5/2) siang, sejumlah perwakilan organisasi Katolik tingkat nasional, mendatangi kantor Tempo di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Mereka menilai lukisan sakral itu telah dianalogikan Tempo dengan keluarga mantan penguasa Orde Baru — yang di mata masyarakat berlumuran kasus KKN.

Para pengunjuk rasa berasal dari Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Forum Komunikasi Alumni PMKRI (Forkoma), Pemuda Katolik, Tim Pembela Kebebasan Beragama, Solidaritas Demokrasi Katolik Indonesia (SDKI), Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), Wanita Katolik RI (WKRI), dan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA).

”Cover itu sangat menyinggung hati nurani dan keimanan umat Katolik. Karena foto jamuan makan terakhir itu merupakan perlengkapan ibadah kami. Mereka (redaksi Tempo) mengaku keliru dalam mengambil analogi. Sesuatu yang menurut kami justru bertolak belakang dan menimbulkan keresahan,” kata Ketua Forkoma, Hermawi Taslim.

Umat Katolik meminta klarifikasi dan pernyataan maaf dari penanggung jawab Tempo. Mereka juga ingin memastikan kejadian seperti ini tak akan terulang, bukan hanya untuk umat Katolik, tapi bagi umat beragama lainnya di Indonesia. Dimintanya pula agar edisi majalah itu ditarik dari peredaran.

Persoalan ini akan kami anggap selesai bila Tempo memenuhi komitmennya meminta maaf secara terbuka dan lugas dengan bahasa yang dimengerti oleh masyarakat di pelosok,” tegas Herwawi, yang juga fungsionaris Partai Kebangkitan Bangsa.

Meminta maaf
Selama hampir dua jam, perwakilan umat Katolik itu berdialog dengan pimpinan Tempo. Mereka diterima oleh Pemimpin Redaksi Toriq Hadad, Redaktur Eksekutif Wahyu Muryadi, Redaktur Senior Fikri Jufri, dan awak redaksi lainnya.

”Kami hanya mengambil inspirasi dari sebuah gambar yang dilukis Leonardo Da Vinci… Perbedaan tafsir ini kami hormati dan saya sebagai pemimpin Majalah Tempo mohon maaf apabila gambar ini dianggap menistakan umat Kristiani,” ujar Toriq.

Sesuai tuntutan perwakilan umat Katolik, pernyataan maaf Tempo itu akan dikemas dalam berita yang dimuat Koran Tempo hari ini (6/2). Berita serupa sudah dimuat pula dalam Tempo Interaktif. Pekan depan, dalam edisi Majalah Tempo berikutnya, pernyataan maaf itu akan dibuat lagi.

”Dirubrik surat dari redaksi, kami akan mengulangi pernyataan minta maaf dan penjelasan tentang cover itu,” jelas Toriq. Tak ada tuntutan ganti rugi. Hanya saja, Toriq mengaku sulit bila harus menarik kembali edisi khusus majalah itu yang sudah terlanjur beredar di masyarakat.

Redaksi hanya bisa mengganti sampul depan Majalah Tempo edisi bahasa Inggris yang belum diedarkan. ”Secara teknis tidak mudah untuk melakukan penarikan,” kilah Toriq.

‘Hati-hati terhadap Masalah Sensitif’
JAKARTA — Partai Damai Sejahtera (PDS) meminta semua pihak, berhati-hati dalam menampilkan masalah sensitif terutama menyangkut nilai sakral agama. PDS pun menuntut klarifikasi gambar keluarga mantan presiden Soeharto pada sampul majalah empo terbaru, yang mirip perjamuan kudus Yesus, The Last Supper, karya Leonardo Da Vinci.

Wakil Ketua Umum PDS, Denny Tewu, mengatakan, jajaran DPP PDS, Senin (4/2) malam, malah menggelar rapat khusus membahas cover Tempo tersebut. `’Kami putuskan meminta penjelasan pihak Tempo, apa motif pemuatan gambar itu? Adakah ingin melecehkan umat kristiani?” katanya, kepada Republika, kemarin.

Diakui Denny Tewu, gambar tersebut memang tidak sama dengan gambar perjamuan kudus, namun ada kemiripan. Sebagai orang timur, ia meminta seharusnya semua pihak menyadari akan adanya beberapa wilayah sensitif, yang bisa memunculkan ketersinggungan.

”Kebebasan berekspresi semestinya tetap menjaga wilayah-wilayah yang bisa memunculkan ketersinggungan kelompok tertentu. Harusnya kita sadar kita itu orang Timur,” ujar Denny.

Anggota Komisi VIII DPR, Ahmad Farhan Hamid, menambahkan, persoalan ketersinggungan seperti itu tidak hanya dialami umat Kristen. Ajaran dan simbol kesucian umat Islam juga sering dilecehkan dengan dalih kebebasan pers dan berekspresi.

`’Seharusnya semua pihak berhati-hati bila berkait dengan persoalan sensitif seperti itu. Media massa harus bisa menimbang antara yang baik dan buruk,” tandas politisi PAN itu.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Masdar Farid Mas’udi, juga mengatakan, persoalan tersebut berkait dengan wilayah tepo seliro (toleransi). ”Harusnya ada kesadaran masyarakat untuk menjaga hal-hal yang bisa memunculkan ketersinggungan umat beragama,” katanya. dwo (djo/RioL)

———————–

Starting Point :

Apa yang disampaikan oleh PDS mengingatkan saya tentang kasus PDS yang terakhir terhadap umat Islam yang juga melecehkan dalam situsnya sebelum akhirnya diperbaiki. Berita mengenai ini bisa dicek di http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_radar&id=161222&c=108#

Mungkin kita perlu mempertegas kembali bahwa apa batasan menghujat suatu agama dan apa yang bisa ditafsirkan sebagai tulisan ilmiah dari satu keyakinan yang sangat bisa jadi berlawanan dengan keyakinan lainnya.

Ketika misalnya seorang muslim berdasarkan al-Qur’annya berkata bahwa Yesus bukan Tuhan, dia hanya manusia biasa dan wafat secara alamiah, makamnya bisa ditelusuri …. atau juga ajaran al-Qur’an yang mengatakan bila kitab-kitab para Nabi sebelumnya sudah terdistorsi oleh tangan-tangan manusia …. apakah ini bisa dijustifikasi sebagai bentuk penghujatan ?

Benar bila ajaran Kristiani menolak pandangan tersebut, sebab bagi mereka yesus adalah tuhan (putra tuhan), akan tetapi toh agama Islam mengajarkan hal yang sebaliknya. Demikian pula soal kitab suci, jelas Islam memandang Injil yang ada sekarang bukan lagi Injil asli yang pernah diturunkan pada Isa al-Masih. Didalam Islam, konsepsi ketuhanan adalah tegas, Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan. Isa al-Masih hanyalah manusia biasa dan bukan Tuhan.

Apakah ini bisa dijustifikasi sebagai bentuk penghujatan ?

Kemudian misalnya saya, sebagai muslim, lalu menulis buku tentang Nabi Isa seperti contoh kasus “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” yang dicekal oleh pihak Gramedia.

Apakah ini juga bisa disebut penghujatan terhadap agama Kristen ?

Orang Islam sangat punya hak untuk memberikan pendapat dan menulis apapun berkaitan dengan Nabi-nabi mereka serta isi kitab suci mereka. Jikapun menggunakan literatur-literatur terkait diluarnya maka ini hanya sebagai penunjang saja dan fakta bila hal tersebutpun sudah menjadi bagian dari duni ilmiah sebagaimana misalnya bisa dilihat dalam karya-karya sejenis (Jesus Paper, Misquoting Jesus, Jesus Dynasty, Fifth Gospel etc).

Apakah keberadaan situs-situs seperti http://www.itl.org.uk/in/topics/isa_dalam_islam.html, http://isaalmasih.net/indonesian/index.html, http://www.greatcom.org/indonesian/, http://www.isaislam.org/, http://answering-islam.org.uk/Bahasa/RencanaBF/rencana01.html, http://www.indonesia.faithfreedom.org/ bisa juga disebut penghutan terhadap Islam ?

Ada komentar ?

Sebagai tambahan, buku saya ini bisa dibeli di Toko Buku Gunung Agung atau toko-toko buku Islam lainnya.

Untuk Gunung Agung bisa dipesan juga secara online melalui alamat berikut :

http://www.tokogunungagung.co.id/index.php?go=book_search&event=1&plu=860687&start=0


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH

http://armansyahskom.wordpress.com

http://www.penulis-indonesia.com/armansyah/blog/

Plasa Swaramuslim : Opening Now !

Assalamu’alaykum Wr. Wb.,

Kepada para sahabat semua yang saya hormati, bersama ini saya informasikan bila  Media interaksi dan informasi untuk kemaslahatan umat Islam : Swaramuslim, sekarang telah membuka portal baru khusus mengetengahkan informasi tentang buku-buku/vcd/dvd baru yang mungkin bisa dijadikan pedoman dalam mempelajari Islam.

Untuk detilnya silahkan mengakses ke http://plasa.swaramuslim.com/

Sedikit mengenai portal ini :

# Tentang Plasa Swaramuslim
Plasa Swaramuslim adalah subdomain yang bernaung dibawah domain utama swaramuslim yang mana Plasa Swaramuslim adalah kembangan dari  halaman iklan/banner hasil kerjasama yang saling menguntungkan antara swaramuslim (yang bertindak sebagai fasilitator) dengan pihak ketiga/pemasang iklan (sistim bagi hasil/komisi dll), sedangkan para calon sebagai pihak kedua dapat membeli secara online berbagai produk yang ditawarkan

# Batasan Tanggung Jawab Para Pihak

Swaramuslim ( pihak I )     :    
Sebagai penyedia halaman Plasa Swaramuslimbertindak hanya sebagai fasilitator yang bertugas selalu mengupdate data data produk yang akan dijual/ditawarkan oleh pemasang iklan. Seluruh pesanan dapat dilakukan secara online dan akan ditampung untuk selanjutnya diteruskan kepada para pemasang iklan untuk diproses lebih lanjut.
             
Pembeli ( pihak II )     :     adalah para pembeli / calon pembeli yang melakukan pemesanan secara online di Plasa Swaramuslim
             
Vendor (Pihak III)    :     Atau pemasang iklan (mitra swaramuslim) yang akan memproses berbagai pesanan yang telah dilakukan oleh para pemesan (pihak II). Tanggung Jawab legalitas produk yang dipisan pengiriman – kondisi barang dan pembayaran adalah sepenuhnya hak & kewajiban Vendor/Pemasang Iklan.

Produk yang Ditawarkan : Adapun produk yang ditawarkan bersifat umum dan legal dan akan selalu ditambahkan sesuai penambahan dari pemasang iklan (pihak ketiga) yang juga merangkap sebagai vendor.

Cara Menjadi Vendor : Bila anda perorangan/badan hukum yang berminat memanfaatkan Plasa Swaramuslim untuk memasarkan produk & jasa anda, silahkan hubungi kami via ticket atau via email di plasa@swaramuslim.com atau klik menu hubungi kami pada halaman  Plasa Swaramuslim

Pola Kemitraan : Pola kerjasama di Plasa Swaramuslim adalah sistim kemitraan yang saling menguntungkan, yang mana setiap vendor melakukan sendiri realisasi setiap pesanan yang diterima dan menerima langsung pembayaran dari para pemesan.

(Sumber : http://plasa.swaramuslim.com/3,0,syarat-syarat–kondisi.html)


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH
http://armansyahskom.wordpress.com
http://www.penulis-indonesia.com/armansyah/blog/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.